Categories
Sentra Pemberdayaan Petani

Pemenang Kuis Obor Tani berhadiah Majalah Trubus..

Terima kasih bagi yang sudah memberikan jawaban Quiz Obor Tani berhadiah Majalah Trubus.. kami ucapkan selamat kepada para pemenang..
Berikut Pemenangnya :
1. Amir Sodikin
Kab. Pekalongan
2. Nasirudin
Kec. Mranggen Kab. Demak.
3. Shodiq Saifullah
Kec. Gondangrejo Kab. Karanganyar

Masing Masing Pemenang berhak mendapatkan Majalah Trubus, hadiah akan dikirim lewat Pos..

Foto: Terima kasih bagi yang sudah memberikan jawaban Quiz Obor Tani berhadiah Majalah Trubus.. kami ucapkan selamat kepada para pemenang.. Berikut Pemenangnya : 1. Amir Sodikin Kab. Pekalongan 2. Nasirudin  Kec. Mranggen Kab. Demak. 3. Shodiq Saifullah  Kec. Gondangrejo Kab. Karanganyar   Masing Masing Pemenang berhak mendapatkan Majalah Trubus, hadiah akan dikirim lewat Pos..

Categories
Foto Sentra Pemberdayaan Petani

Perlahan tapi Pasti, Kebun Durian SPT Pododadi, Kec. Karanganyar, Kab. Pekalongan, mengejar Kebun Durian di Chanttaburri-Thailand.

Categories
Berita Sentra Pemberdayaan Petani

Perdebatan tentang Lengkeng Terbaik..

Perdebatan tentang Lengkeng terbaik akan terhenti, apabila Varietas Lengkeng Jumbo diluncurkan oleh pemerintah Thailand. Varietas ini masih dirahasiakan, masih diberi kode DL-4801. Para peneliti masih belum terbuka atas varietas ini, waktu kami berkunjung ke laboratorium penelitiannya. Karakteristiknya: Sebesar bola pingpong, manis, kesat, berbiji lebih kecil dari Itoh/E-Daw: 3-5 mm, produksi tinggi bisa 5 kg per tandan, sangat suka panas matahari. King Long, Phet ban Phaeo, Itoh, Biao Khiao, Puangtong, Vernie, New Kristal pasti tak kuasa menandingi. Semoga perjauangan tahun depan bisa dapat meski hanya satu pohon saja berhasil. Berikut hasil investigasi kami.

E-Daw / Itoh, yang sudah menjadi tulang punggung lengkeng impor.

Si-Choompoo, si merah legendaris.

Biao Khiao, membayang-bayangi Itoh.


Jumbo, “the new commer” yang dilindungi mati-matian.

 

Categories
Berita Foto

Tahun ke-2 dalam upaya memindahkan Mangga Nam Dok Mai dari Thailand ke Desa Labuhan Kidul, Kec. Sluke, Kab. Rembang. Yah, walaupun baru seperseribunya Thailand, paling tidak kita sudah mulai BERGERAK.

Baby Nam Dokmai. 1 bulan lagi mateng.

Yang ini Nam Dok Mai Golden-nya baru berbunga. Ya, 4-5 bulan lagi mateng.

Categories
Foto Sentra Pemberdayaan Petani

Setelah panen Perdana oleh Bupati Kebumen, pertengahan 2014 ini, SPT Seboro tengah mempersiapkan panen ke-2. Ayo semangat !!!

Categories
Artikel Berita Informasia

Jalan Terjal Menuju Kesempurnaan “Suan Baan Rao” di Rayong adalah surga yang ditemukan untuk setiap penggemar durian”.

Pepatah mengatakan: Tidak ada dua durian, yang berbau sama. Saya ingat pernah mendengar ini ketika saya masih anak-anak, tapi tidak benar-benar saya yakini, sampai terakhir pada kunjungan ke Suan Baan Rao, sebuah kebun durian besar di Provinsi Rayong sebelah timur, saya benar-benar memahami kebenaran “daya” dari pernyataan ini.

Tersebar di lanskap berbukit dan dikelilingi oleh dinding perkebunan karet yang tinggi dan berdaun, taman adalah rumah bagi lebih dari 1.600 pohon durian dan menawarkan kepada para pemburu durian dengan aroma yang berbeda dan rasa eksotis bervariasi dari berbagai aroma serta warna kuning sangat kuat dari Durian Chanee.

“Selama beberapa dekade keluarga kami telah menghabiskan banyak uang dan waktu mengumpulkan varietas durian dari tempat yang berbeda,” dimulai Kajohn Puttisuknirun, pemilik Suan Baan Rao pertanian, karena ia menunjukkan kita di sekitar nya 40-hektar kebun.

“Dengan 111 varietas, taman ini memiliki jumlah tertinggi dari spesies durian di Thailand jika tidak mendunia. Apa yang Anda lihat kami adalah hasil dari tahun darah, keringat dan air mata.”
Asia Tenggara asal, “Durionaceae”, atau durian yang sepert dikenal kini, adalah buah yang jelas tidak romantis, tetapi banyak yang mencari.
Dengan bau yang khas dan penampilan kulit buah runcing berduri, ada sedikit kekaguman tentang durian. Kuatnya aroma membuat pusing yang membaui tapi membuat senang bagi yang memakannya. Membawa Durian dalam suatu perjalanan sebagai teman perjalanan akan jauh lebih buruk daripada pasangan mendengkur. Ini dilarang pada semua penerbangan karena kuatnya aroma memiliki kecenderungan untuk menyebar dan menembus kesegala arah dengan jarak yang luar biasa, tidak peduli seberapa baik dibungkus buah. Pelaku bisnis perhotelan tak henti-hentinya melarang untuk membiarkan durian berada di lobi hotel. Dalam bus jika Anda bersendawa atau buang angin setelah makan durian, Anda tidak akan membuat senang teman sendiri.

Namun, di luar itu aroma kuat dari “nektar ambrosial”, jika Anda kuat menahan bau menyengat, Anda dihargai dengan rasa senang yang manis dan segar dari daging buahnya. Alfred Russel Wallace, seorang ahli biologi Inggris dan Barat pertama kali menyatakan untuk rasa khas dari  durian segar saat melakukan ekspedisi ke Asia Tenggara pada abad ke-19, berpendapat bahwa rasa daging buah durian itu seperti puding susu dengan rasa seperti almond.

“Keluarga kami memiliki semangat yang kuat untuk durian,” kata Kajohn, yang lahir dan dibesarkan di provinsi timur ini, yang terkenal dengan durian terbaik.

“Ibu saya dan adik saya punya kios durian di Bangkok Chinatown. Aku dan Adikku dibesarkan dengan tumpukan durian.”

Durian adalah kebanggaan Rayong, menambahkan Kajohn, sebelum digantikan oleh karet, yang membawa harga yang lebih baik. Petani lokal membersihkan kebun durian dan menanam pohon karet bukan menghasilkan beberapa varietas durian mati sepenuhnya. Saat ini, hanya Monthong , Kanyao dan Chanee tumbuh di kebun provinsi. “Ini benar-benar tragis,” keluh Kajohn. “Kami telah kehilangan beberapa durian unggul dengan rasa yang khas. Misi kami adalah untuk membawa kembali rasa-rasa durian yang hilang dengan menanam dan memperbanyak ratusan varietas.

“Kami melompat ke dalam bus safari untuk melayari kebun pertanian dan kami mengagumi pada kerajaan kecil durian yang terbentang di depan mata kita. Ribuan pohon tropis ini berdiri berdampingan dan kami tertawa pada nama-nama yang tidak biasa yang mencakup “toei kra na khao” (ladyboy berwajah putih), “ha luk mai theung Phau” (lima buah-buahan yang tidak pernah mencapai suami) dan “thoranee wai “(gempa). Beberapa buah yang oval dan terlihat agak seperti rugby bola runcing, sementara yang lain berbentuk bulat dan datar. “Bagaimana durian bernama?” Saya bertanya Kajohn, sambil menunjukkan “kra toei kan sun” nya atau ladyboy pendek bertangkai.

“Setiap durian di sini kami bawa nama aslinya. Kami tidak membuat satupun nama baru dari mereka,” ujar Kajohn. “Bahkan, kami sudah melakukan pencocokan DNA untuk memastikan asalnya.” Dia mengakui bahwa meskipun banyak dari durian itu lebih berharga bagi mereka sebagai warisan varietas daripada keberhasilan pemasaran mereka. The “kra toei” keluarga, misalnya, tidak populer di kalangan konsumen karena memiliki biji besar dan daging tipis untuk menikmati, meskipun mempunyai rasa dan tekstur buah yang luar biasa.
“Kebanyakan orang pergi untuk memdapatkan Mon Thong karena daging tebal dan biji kecil dengan rasa yang cukup enak. Ini adalah nilai terbaik jika ditijau dari segi uang,” kata Kajohn. “Tapi, jika Anda seorang pecinta durian akan pilih-pilih, Monthong memiliki tekstur kasar, sedikit kenyal.”

Pada akhir penjelajahan kebun, kita mencicipi beberapa durian dengan melihat kra toei menatap sangat tajam dengan penuh dendam kepada Chanee, bahwa enak belum tentu populer. Setelah beberapa saat, kami mulai memahami apa yang menarik tentang durian sebagai “raja buah”.

Adik perempuanku lebih suka monthong ke jenis lain karena dia mencintai segar manis dan chunky (mudah dikunyah). Pacar saya mencintai chat si thong (payung emas) untuk tekstur halus dan semanis susu. Earth, nama keponakan saya yang berusia enam tahun, tidak bisa membedakan mana durian yang enak, mengejek setiap segumpal (pongge) daging buah durian yang serupa puding,  seolah-olah ia adalah durian raksasa asli, dan memakannya.

Dan itu benar: tidak ada dua durian berbau yang sama. Kami harus membayar “biaya”dalam perjalanan pulang kami, Kami berempat harus  menghirup bau durian dari sendawa dan dari daging buah durian yang menempel di telapak tangan dan mulutkami, di dalam mobil kecil Kami, sepanjang 200 kilometer! Lain kali, dengan tegas adik perempuanku berkata bahwa, kami harus membawa sikat dan pasta gigi dan beberapa penyegar nafas, untuk dipergunakan sebabis makan durian. Wuff. (Diterjemahkan bebas dari koran The Nation, Rabu, 14 Mei 2014).

Categories
Berita Informasia

Quiz Obor Tani 2014 – Dapatkan Majalah Trubus Baru Edisi Khusus.

Disediakan 5 Majalah Trubus baru, edisi Khusus Budi Dharmawan dan Buah-buahan Tropis, untuk 5 Pemenang yang memenangkan undian, apabila dapat menjawab 3 pertanyaan di bawah ini dengan tepat :

1. Apakah kepanjangan dari SPT?
2. Sebutkan 3 nama Desa SPT, lengkap dengan Nama Kecamatan dan Kabupatennya?
3. Sebutkan salah satu lembaga/institusi/Perusahaan Pertanian yang dipimpin oleh Ir. Budi Dharmawan?

Jawaban ditulis pada email beserta alamat rumah dan no telp yang dapat dihubungi, kemudian dikirimkan ke alamat email: obortani@yahoo.com selambat-lambatnya 15 Mei 2014.

Jawaban yang benar akan diundi dan akan ambil 5 pemenang, yang akan diumumkan di Facebook dan Website Yayasan Obor Tani pada 17 Mei 2014 untuk mendapatkan hadiah sebuah majalah Trubus yang akan dikirimkan melalui Pos atau TIKI.

Categories
Artikel Berita Foto

Jokowi : sebut petani Green House sebulan untung Rp 2,4 juta ..

Jokowi sebut petani Green House sebulan untung Rp 2,4 juta

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Green House di Rusun Marunda, Marunda, Jakarta Utara. Warga rusun dilibatkan dalam pengelolaan agar mampu menghentikan impor sayur.
Jokowi mengungkapkan, bangunan pertanian kota ini dibangun dengan menggunakan dana pribadinya. Namun ia tidak ingin mengatakan berapa jumlah nominalnya. Tapi, jika memang menunjukkan keberhasilan, maka akan dibangun lagi menggunakan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD).
“Ya modalnya sementara ini dari saya, nanti dari APBD. Ini Green House pertama, ini percobaan tapi sangat berhasil, tidak ada tanaman yang dijual, ini hari Minggu mau panen dan (hasilnya) dijual,” katanya di Rusun Marunda, Marunda, Jakarta Utara, Jumat (11/4).
Untuk menggerakkan roda pertanian, ada 10 petani kota yang telah terdidik, dan mereka adalah warga dari Rusun Marunda. Kelompok tani ini telah menerima pelatihan dari petani hidroponik. Harapannya dapat menumbuhkan minat bercocok tanam di kota.
“Model-model pertanian kota seperti ini bisa diterapkan di desa dengan lahan yang lebih luas. Negara ini makmur, asalkan pertanian ada sentuhan teknologi, baik varietasnya, baik cara bertanamnya, tapi harus diajari. Ini aja yang orang kota cepat bisa,” ungkapnya.
Jokowi mengungkapkan, secara hitung-hitungan perbulan kira-kira mendapatkan pemasukan sekitar Rp 20 hingga Rp 24 juta. Karena ada 10 petani yang mengerjakan, maka keuntungan dibagi rata. Sehingga satu petani mendapatkan Rp 2,4 juta.
“Kita tanami ada pak-choi, selada hijau, selada merah, sawi, sementara ini, nanti akan diperbanyak, tergantung pasar untuk supermarket. Terong, cabe,” jelasnya mengenai tanaman apa yang ada.
“Dua bulan ini baru percobaan, dijualnya di pasar tradisional oleh warga. Kemarin sudah laku Rp 500 ribu. Ini baru satu panen. Tapi setiap hari bisa panen. Justru kita mau ekspor. Enggak ada impor sayur dan buah,” tutup mantan wali kota Solo ini.
Salah satu anggota tani Ester (45) mengatakan, untuk membangun Green House dibutuhkan dana sekitar Rp 500 juta. Dana ini diberikan secara langsung oleh Jokowi
“Dana pribadi Rp 500 juta untuk pemberdayaan masyarakat rusun,” tutupnya.

Reporter : Fikri Faqih | Jumat, 11 April 2014 14:44
Merdeka.com

Categories
Berita Sentra Pemberdayaan Petani

Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan di SPT Nglanggeran.

Menikmati Durian Chanee yang dibuahkan di Luar Musim (10 April 2014) dengan Dirut Pertamina, Karen Agustiawan.

Chanee asli tanaman Indonesia, jauh lebih maknyus daripada Chanee impor. Dirut Pertamina, Karen Agustiawan (paling kiri), Nursatyo Argo (Sekper Pertamina no. 1 dr kanan), Joeni D Asmartyn (Ketua II Yay. Obor Tani no. 2 dr kanan), Budi Martono, Sekda Gunungkidul (no.3 dari kanan).

Categories
Artikel Berita Foto Sentra Pemberdayaan Petani

Embung Budi Ubah Air Hujan Jadi Deposito Berjangka.

 

Jawa Pos, Senin 7 April 2014
“Embung Budi Ubah Air Hujan Jadi Deposito Berjangka”

SAYA aka berkisah megenai orang yang begitu memberi harapan. Budi Dharmawan di Semarang. Dua-duanya sudah berumur lebih dari 70 tahun, tapi masih saja das-des. Saya berinteraksi dengan Pak Budi minggu lalu.
Pak Budi mengajak saya ke Desa Wonokerto, sebuah desa di pelosok gunung Kabupaten Semarang. Saya sampai naik ojek untuk bisa masuk ke desa dengan jalan yang gonjang-ganjing. Mengejar waktu.
Pak Budi membina seratus orang di sini. Tanah mereka yang selama ini banyak menganggur ditanami buah naga. Pertamina menjadi pemberi modalnya.
Pak Budi yang pensiunan perwira TNI-AL itu memilih membina petani miskin dengan tanaman yang memiliki nilai tambah tinggi : buah tropik. Di Wonokerto dengan buah naga. Di Boyolali dengan buah durian. Di lain tempat dengan buah kelengkeng.
Bertani dengan buah tropik tidak akan punya musuh. Kecuali harga pasar. Pak Budi tidak mau membina petani padi atau pertanian bahan baku industri. Petani padi akan selalu menghadapi tekanan pemerintah. Petani bahan baku industri akan selalu mendapat tekanan dari kalangan pabrik.
“Kalau bertani buah, tidak diatur oleh pemerintah maupun kapitalis industri,” katanya.
“Petani padi tidak akan bisa kaya karena harganya pasti ditekan pemerintah. Petani bahan baku tidak akan bisa kaya karena harganya ditekan oleh industri,” tambah Pak Budi.
Di Wonokerto, Pak Budi membangun embung 20 x 40 meter dengan dasar membran. Desa itu memang kering pada musim kemarau. Embung itu digunakan untuk menampung air hujan selama rendheng. Air di embung itu akan cukup dipakai selama lima bulan pada musim kemarau. Khusus untuk mengairi dengan hemat kebun-kebun buah naga milik petani.
Di setiap desa binaan Budi Dharmawan, selalu diutamakan pembangunann embung. Itulah cara nyata untuk membantu petani pedesaan yang gersang, yang biasanya mudah jatuh ke kemiskinan. Air hujan biasasnya dibiarkan terbuang menjadi bencana. Pak Budi menjadikannya deposito berjangka.
Kini sudah 12 desa yang dibina Pak Budi. Semuanya berhsil dengan kadar yang berbeda. Tapi, dia belum puas. Kualitas praktik pertanian desa binaan tersebut baru bernilai 7. Umumnya, itu terjadi karena petani belum terbiasa mempraktikkan sistem pertanian modern. Tingkat disiplin mereka juga masih rendah. Pak Budi ingin pada akhirnya mereka bisa meraih nilai 9 seperti kualitas kebun miliknya sendiri.
Pak Budi memang memiliki kebun buah. Dia pernah bekerja sama dengan pemodal besar tapi mengecewakan. Pengusaha besar sulit untuk diajak membina usaha kecil. Pak Budi memilih berjuang dengan caranya sendiri. Membina petani miskin secara langsung. Memang dirasa cara itu lambat untuk menjangkau kemiskinan yang begitu luas. Tapi, dia memilih menghidupkan satu per satu desa miskin dari pada hanya bicara terus, namun tidak kunjung berbuat.
“Sambil menunggu, siapa tahu kelak ada presiden yang mengcopy cara ini dengan cepat dan masif.” Kata adik kandung ekonom Kwik Kian Gie itu.
Saya harus mengaku kalah cepat oleh Pak Budi. Ketika tahun lalu BUMN dan IPB sepakat mengembangkan kebun buah tropik, saya pikir kamilah yang pertama melangkahkan kaki untuk buah tropik. Ternyata Pak Budi sudah lebih dulu meski skalanya kecil. Tentu juga masih ada orang-orang seperti Pak Budi di tempat-tempat lain.
Pak Budi adalah ayat-ayat tuhan yang hadir nyata di dunia. Dan di dalam masyarakat kita.